Roy Manu Leveran Bicara Akhmad Sekhu

Meditasi Ala Akhmad Sekhu

Akhmad Sekhu, penulis kreatif yang aktif menulis puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur kota, kupasan film serta telaah tentang televisi. Dalam dunia kepenulisan, Akhmad Sekhu dikenal melalui beberapa buku kumpulan puisi tunggalnya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997) dan Cakrawala Menjelang (2000). Juga novel Jejak Gelisah (2005) dan kumpulan cerita bersambungnya dari Harian Sinar Harapan, Dibuai Dimanjakan Kenangan (2005).
Jejak kepuisiannya mulai diperhitungkan manakala dia berhasil memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta tahun 1999. Di beberapa media cetak nasional pun, nama Akhmad Sekhu sering mengisi rubrik-rubrik puisi dan kolom cerbung.

Zen Hae – Ketua Komite Sastra DKJ – menyebut keberpuisian Akhmad Sekhu berada dalam masalah yang cukup serius. Sajak-sajaknya penuh ambisi bermeditasi di tengah hiruk-pikuk kota, semacam ratapan dari doa-doa di antara deru mesin industri dan irama kerja. Modernisasi membawa akibat serius, kampung halaman yang ditinggalkan, ikatan batin dengan sesama menjadi berantakan, tetapi manusia sejati mesti tetap ada. Seperti sajaknya berikut:

SAJAK TIAP HARI
Tiap hari, aku harus bersentuhan dengan
nuraniku sendiri, lalu batin tiada henti
mengasah rasa yang terkikis kecemasan

Tiap hari, aku harus merangkaki
dinding kesunyian hati, bagai cicak yang papa
melata derita yang terbata-bata

Tiap hari, aku harus berjalan di atas bara
semangat jiwa yang harus terus menyala-nyala
menemani batin yang terhimpit kenyataan pahit

Tiap hari, ya, tiap hari
aku memandang dalam perasaan transparan
mencari dirimu, wahai jiwa yang damai

Yogyakarta, 1997

Dalam sajak di atas, betapa ‘aku’ menggambarkan kenyataan sehari-hari yang dilewatinya bersama waktu. Di antara kesibukannya sebagai manusia yang harus berjuang untuk memenuhi kehidupan, si ‘aku’ lirik selalu berusaha mencari-cari sesuatu yang hakiki di dalam dirinya. Ya, potret hubungan antara manusia dan penciptanya. Demikian beraturan alur yang disusun Akhmad Sekhu dalam sajak di atas. Seperti penggambaran bahwa segala sesuatunya akan berujung kepada Sang Maha Damai.

Coba kita bandingkan sajak di atas dengan mahakarya milik Akhmad Sekhu yang lain dan sangat terkenal di bawah ini:

SAJAK SERIBU TAHUN
Seribu tahun lagi, aku mungkin
datang kembali tidak dengan raga ini
tapi puisi-puisi. Sukmaku menjelma
makna-makna yang mengental dalam pemahamanmu

Jangan lagi sebut-sebut namaku
kalau pesan puitikku tak kau mengerti
mungkin debu-debu lelah mengeja hidupmu
berhamburan kemewahan yang semu
tapi puisi-puisiku tidak alpa menyentuh
hatimu yang telah berurat batu itu

Seribu tahun lagi, ya, seribu tahun lagi
diriku mungkin sudah remuk
tapi bersama puisi-puisi
aku akan abadi

Jakarta 2005

Sama halnya dengan Sajak Tiap Hari, sajak di atas seakan mencoba menggali perasaan-perasaan seorang anak manusia. Konsep penulisan yang dirangkai bagai sebuah doa dan harapan, seperti memperjelas sisi ratapan yang lamat-lamat di antara hegemoni modernisasi yang global.

Meditasi yang cukup pelik di tengah daya jelajah imaji yang plural dewasa ini. Karena di dalamnya tersimpan kepercayaan pada puisi yang terasa berlebih-lebihan. Tak bisa rileks dengan medianya sendiri. (Zen Hae.Lampion Sastra Planet, 2008. Hal. 6.)

Namun, dari sudut pandang yang berbeda. Proses kreatif Akhmad Sekhu dapat dijadikan ruang refleksi perenungan yang bukan mustahil bisa bermanfaat sebagai bahan evaluasi pendekatan diri kepada Ilahi.
Salam Sastra,
Roy Manu Leveran

Referensi

PLANET: Buku Puisi Lima Penyair Planet Senen

Penulis: Akhmad Sekhu, Giyanto Subagio, Imam Ma’arif, Irman Syah, Widodo Arumdono.
Penyunting: Zen Hae

Desain Sampul: Hidayat Gani

Tata Letak: Banon

Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Planet Senen.

Sumber: http://robekata.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Prof. DR. Rachmat Djoko Pradopo Bicara Akhmad Sekhu

“Sajak-sajak Akhmad Sekhu pada umumnya mengandung kepercayaan akan tercapainya tujuan kehidupan yang nyata, baik terhadap kepercayaan Tuhan maupun dengan kerja keras… Sajak-sajaknya transparan, mudah dicerna karena kiasan-kiasannya sugestif (menyaran). Bahkan, juga yang bergaya imajisme sangat menyaran… Keseluruhan sajak-sajaknya sangat menarik untuk diperhatikan.”

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Prof. DR. Suminto A. Sayuti Bicara Akhmad Sekhu

“Kesadaran dan penghayatan atas berbagai fenomena yang bersifat inderawiyah pada akhirnya menjadi pemicu utama lahirnya kesadaran dan penghayatan yang ilahiah. Dengan begitu, jika sajak-sajak Akhmad Sekhu hadir menyiratkan nuansa “penghambaan” menjadi tidak mustahil. Dan itulah nilai plusnya.”

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Piek Ardijanto Soeprijadi Bicara Akhmad Sekhu

“Akhmad Sekhu memilih serta merangkai kata-kataa  untuk membangun puisi umumnya secara bersahaja… Juga menunjukkan dirinya sebagai insan yang memiliki vitalitas yang kuat…. Figurative speech sebagai pemanis, baik metafora, persinifikasi, pleonase, dan hiperbola menjadi daya pikat tersendiri.”

(Pengantar Piek Ardijanto Soeprijadi dalam buku kumupulan puisi “Penyeberangan ke Masa Depan” karya Akhmad Sekhu)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Sri Sultan Hamengkubuwono X Bicara Akhmad Sekhu

“Jika kita baca puisinya, terasakan betapa sarat akan teks ilahi dan tekstur alami. Mungkin berakar dari desa kelahirannya di Jatibogor, Suradadi, Tegal — yang dipenuhi oleh budaya pesisiran yang islami. Sebagai penyair, Akhmad Sekhu adalah seorang otodidak, jika dilihat dari latar pendidikannya.”

(Sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam buku kumpulan puisi “Cakrawala Menjelang” karya Akhmad Sekhu, Yogyakarta, 2000)

Sri Sultan Hamengkubuwono X (Kraton Yogyakarta Hadiningrat, 2 April 1946 – sekarang) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1998. Hamengkubuwono X lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM dan dinobatkan sebagai raja pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Dasa.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Komentar

Filed under Uncategorized